![]() |
| Ilustrasi |
| Orang tua dan guru gagal membangun moral bangsa melalui pendidikan.[Gofur/radarindonesianews.com] |
Tawuran, perkelahian, pemerkosaan bahkan pembunuhan yang dulu kerap terjadi di dunia preman kini telah memasuki ranah pendidikan di negeri ini. Premanisme dalam bentuk tawuran semakin meningkat setiap tahunnya. Sangat ironis bahwa dengan pembiayaan dana APBN sebesar 20% yang digelontorkan untuk pendidikan di Indonesia ini perilaku tidak terpuji dari peserta didik justeru semakin menjadi-jadi. Di DKI sendiri, Pemrov DKI menyuntikkan dana APBD sebesar 25% untuk pendidikan.
Lalu apa sebenarnya yang menjadi penyebab utama kian buruknya perilaku anak didik kita? Keteladanan dari orang tua, guru itu sendiri dan para pemimpin yang kurang memberi contoh tentang kebaikan secara ril.
Pendidikan sejatinya berada di rumah. Orang tua menjadi ruang kelas utama yang bertanggung jawab terhadap putra-putri mereka. Selanjutnya pihak sekolah dengan segala aspeknya. Sekolah bertanggung jawab tidak saja pada sisi intelektual tetapi termasuk juga dalam bidang moral peserta didik. Bila dua sisi ini melakukan kordinasi yang baik, maka tujuan pendidikan nasional akan semakin baik.
Ini menjadi prasyarat bagi terwujudnya cita-cita dan tujuan pendidikan di negeri ini. Bila tidak, maka pendidikan akan mengalami kegagalan meski ditunjang dengan dana dan fasilitas. Wallahu a'lam Bishowab.[gf]
Ini menjadi prasyarat bagi terwujudnya cita-cita dan tujuan pendidikan di negeri ini. Bila tidak, maka pendidikan akan mengalami kegagalan meski ditunjang dengan dana dan fasilitas. Wallahu a'lam Bishowab.[gf]

No comments:
Post a Comment